Diposkan pada film

PASSENGERS (2016)

IMDB Rating 7/10

Passengers_2016_film_poster

Hmm, film lain dengan rating tinggi dari tahun 2016. Aku tertarik sekali menonton film ini karena adanya Chris Pratt, mygod, aku adalah penggemar fanatik film-film yang dia bintangi, terutama Guardian of Galaxy. Hmm, aku masih ingat dengan adegan pertama di film itu, dengan lagu Blue Swede yang mengalun kencang ‘ooka, shaka, ooka, shaka’. Njirrr…

Kembali pada Passengers, film besutan sutradara Morten Tyldum ini mulai dirilis di akhir tahun 2016 dan dengan budget 110 juta USD film ini berhasil membukukan penghasilan sebesar 303,1 juta USD. Bergenre science fiction membuatku memiliki ekspektasi cukup tinggi pada film ini, apalagi dengan aktris sekelas Jenifer Lawrence yang dikenal sebagai aktris dengan bayaran paling mahal se-Hollywood dan juga abang Chris Pratt kesayangan.

Dan jreng-jreng, di adegan awal kita disuguhi gambaran luar angkasa yang temponya lambat. Jujur sewaktu menonton di awal, aku masih mengambang dan bosan. Adegannya ditampilkan dengan lambat, perlahan-lahan. Apalagi saat dimunculkan kalimat : jumlah penumpang 5.000 orang. Hmmm, aku super nggak nyambung….
Jim Preston (Chriss Pratt) seorang mekanik mengikuti program pemindahan manusia dari bumi ke basis di luar angkasa yang bernama Homestead II. Dalam proses transportasi antar galaksi yang memakan waktu tempuh 120 tahun, baik kapten maupun kru hingga penumpangnya dimasukkan ke dalam kapsul hibernasi. Tujuannya adalah agar manusia tidak menua selama waktu 120 tahun keberangkatan itu. Dan kapal luar angkasa yang mereka tumpangi mengklaim tingkat kesuksesan 100% sampai ke homestead II, tanpa masalah sedikitpun.

 

Nah, di sinilah muncul Jim yang terbangun dari proses hibernasinya. Dia dituntun menuju kamarnya dan diberikan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, mengingat dia sudah berhibernasi selama 120 tahun (dibangunkan dari hibernasi berarti sudah hampir sampai di tempat tujuan dong!). Keesokan paginya, Jim dibangunkan untuk mengikuti kelas-kelas yang disediakan, untuk membangun koloni yang dapat survive di Homestead II. Aku suka dengan adegan dimana Jim mengenakan jaket kulit, kemudian mencopot jaketnya dan berpikir apakah akan lebih keren kalo disampirkan ke bahu seperti gaya khas Roy Marten dahoeloe, atau lebih baik jika jaket dipakai seperti biasa dan taraaa, dia keluar dari kamarnya tanpa jaket. Ha-ha!
Jim dituntun ke area sarapan dan memasuki kelasnya. Di kelas Jim sudah merasa heran mengapa hanya dia seorang diri yang muncul, namun robotnya berbicara seakan-akan ada banyak orang di sana. Keheranannya terus berlanjut hingga dia keluar dari kelas dan mencari tahu pada robot serbatahu yang cukup bodoh. Dan jreng-jreng, Jim bangun lebih cepat 90 tahun dari yang seharusnya. Setelah perjalanan 30 tahun, ternyata ada yang salah dengan kapsulnya dan dia terbangun. What?!
Bisa dibayangkan masih tersisa 90 tahun perjalanan dan apa yang harus dilakukannya selama 90 tahun seorang diri?
Untuk ukuran film scifi, pengambilan adegannya detil dan bagus, set-nya pun keren. Kapal luar angkasanya berbentuk super unik, dengan lift yang bergerak horizontal, dengan robot bartender, dengan restoran Jepang yang memiliki proyeksi ikan yang berenang-renang di atas kepala pengunjungnya, dengan makanan yang sudah jadi dengan menekan satu tombol saja, (bahkan aku suka dengan edisi sarapan kelas gold yang super enak, berbeda dengan sarapan kelas biasa yang super datar) , adegan keluar dari kapal dan bermain di galaksi (mygod!) dan aku suka dengan desain kamar di kapal itu. Setting yang ditampilkan seperti dream comes true, seperti sesuatu yang ada di kartun Doraemon, membangkitkan imajinasi, membuat kita berkhayal gimana rasanya hidup semenyenangkan itu? Rasanya gila saja hidup di antariksa, gila!
Untuk konflik, jujur saja film ini lebih condong ke film-film comedy romance. Konfliknya nggak menggigit, problemnya nggak klimaks. Jadi, jangan berharap adegan action ala Chris Pratt dan J-Law. Nope.
Justru yang ditampilkan di film ini lebih menyerupai film The Martian, bagaimana orang harus survive dan bisa survive tanpa menggila seorang diri. Apalagi jaraknya yang super jauh membuat pesan baru dapat dikirimkan setelah 19 tahun, what?! Nunggu balasan email saja mesti 38 tahun (bolak-balik). Jadi otomatis Jim akan hidup seorang diri. Nah, disinilah konfliknya mulai terbangun.
Haha, mau baca spoilernya apa kagak? *senyum iblis*
Dengan rating 7, aku sangat menyarankan untuk menonton film ini. Bagus? Iya! Datar? Iya! Tetapi menyenangkan untuk ditonton karena setting-nya yang memukau, plus acting seorang J-Law tidak pernah mengecewakan. Apalagi abang Chris. Seorang teman bahkan memuji habis film ini ‘baper aku nontonnya, haha!’.
Jadi, untuk pecinta film romantis, wajib banget nonton film ini. Untuk pecinta abang Chris, juga wajib nonton film ini, (kerana ada bagian abang dengan beard tebal yang nyemak banget). Untuk fans J-Law, hukumnya wajib nonton film ini, karena J-Law tampil flawless di film ini. Hmmmm 😍😍😆, haha!

 

Pekanbaru, 18 Agustus 2017

2.27 pm

– C

Diposkan pada film

American History X (1998)

American_history_x_poster

IMDB rating 8,5 / 10

 

American History X memulai ceritanya dengan adegan yang cukup memorable. Ada adegan sex dengan warna hitam putih, hingga akhirnya kemunculan Derek Vinyard (Edward Norton) dengan tato nazi di dada kirinya, kepala botak (skinhead) dan adegan penembakan yang terjadi dengan cepat.

 

Cerita berganti menjadi sekolah, dimana guru dan kepala sekolah berdebat tentang seorang anak, Danny Vinyard (Edward Furlong) yang berkepala botak dan merupakan adik Derek. Diceritakan bahwa essay yang ditulis oleh Danny merupakan essay yang sarat akan white supremacy (semacam argumen bahwa bangsa berkulit putih merupakan bangsa terbaik dan America mestilah merupakan Negara kulit putih). Tentu saja idealisme tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi oleh Negara yang sempat mendapat sebutan Negara adidaya tersebut. Essay itu berisi argumen mengapa Hitler pantas disebut sebagai pahlawan kemanusiaan. Perdebatan antara kedua orang itu selesai dan Danny dipanggil masuk ke dalam ruangan kepala sekolah, Dr Bob Sweeney, yang berkeras bahwa dia tidak akan menyerah untuk membimbing Danny. Akhirnya Danny ditugaskan untuk mengambil kelas intensif dengan Mr Sweeney dan tugas pertama yang akan dia kerjakan adalah sebuah essay mengenai saudara lelakinya (Derek Vinyard) yang akan keluar dari penjara hari itu. Essay berisi mengenai bagaimana kejadian yang menimpa abangnya, membentuk karakter Danny dalam kehidupan Amerika, dampaknya akan keluarga mereka, dan essay itu hanya akan dibaca oleh MR Sweeney seorang diri. Kemudian film ini berlanjut pada inti sebenarnya.

 

Secara umum, film ini menceritakan bagaimana pemuda berprestasi seperti Derek, akhirnya berubah menjadi rasis yang anti kulit hitam karena adanya orang kulit hitam yang menyebabkan kematian ayahnya yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Amarahnya menyala dan tidak mampu dipadamkan. Amarahnya membuat dia menerima bulat-bulat pandangan rasis yang didiktekan padanya. Amarahnya membuat dia percaya akan white supremacy, sesuatu yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Amerika. Boleh saja, Hitler menjadi satu-satunya orang yang membuat propagandanya akan ras Arya tidak akan pernah hilang dari buku sejarah manapun, tetapi jauh dari Jerman, Amerika adalah Negara dengan sejarah hitam akan rasisme.

 

Tema yang diangkat film ini sangat menarik, sangat jamak, sangat kultural, sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari warga America. Black man, white man. Film ini menyindir langsung setiap keluarga Amerika, yang masih memiliki pandangan rasis dalam diri mereka, termasuk bagaimana orangtua meremehkan literatur tentang orang berkulit hitam. Film ini keras, adegan kekerasannya sangat tajam, tidak perlu kubangan darah untuk mengetahui bahwa pembunuhan yang didasari dengan kemarahan itu hasilnya sangat buruk (very nasty).

 

Alurnya bagus, maju mundur, maju pada jam-jam yang berlangsung dalam hidup Danny dan Derek setelah Derek keluar dari penjara dan mundur pada kejadian lama, adegan saat ayahnya masih hidup, adegan saat Derek belum di penjara, adegan saat Derek marah sewaktu diwawancara mengenai kematian ayahnya hingga adegan saat Derek berada di penjara. Penonton disajikan secara detil bagaimana remaja merokok seperti orang dewasa, bagaimana kemiskinan membuat seorang ibu mesti tidur di sofa di ruang tamu setiap harinya, bagaimana anak-anak muda dibakar dengan ideologi akan white supremacy, bagaimana sulitnya seorang pemuda seperti Derek membuat diri pada pertemanannya pada seorang napi berkulit hitam.

 

Karakter Derek Vinyard yang keras dan penuh amarah, dibuat menjadi tenang, menerima keadaan dan sadar bahwa apa yang dia lakukan dahulu adalah salah. Sementara Danny percaya bahwa abangnya adalah dewa dan berkeras mengikuti jejak abangnya, mengikuti ideologi abangnya dan tidak lagi berorientasi pada masa depan. Diperlihatkan Derek yang ingin bertobat dan Danny yang baru memulai dan tidak siap untuk berhenti.

 

Film ini menurutku jenius, film ini menggambarkan dengan jelas apa itu kemarahan, apa itu kebencian, wujudnya dalam kehidupan sehari-hari, rasisme, hingga dampak buruknya. Tidak ada amarah yang menjelma menjadi kebaikan, tidak pernah ada. Aku sendiri sangat mengagumi acting Edward Norton dan Edward Furlong di film ini. Seorang lelaki yang ingin memulai kembali hidupnya dan seorang remaja yang tersesat. Dan aku sendiri menyarankan agar film ini ditonton hingga akhir.

 

Akhirnya sangat nyes, tidak tertebak dan membuatku berpikir sepanjang minggu mengenai film ini. Angka 8,5 terasa tepat untuk film yang intens seperti ini. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari film ini.

 

So, I guest this is where I tell you what I learned.

My conclusion, right?

Well, my conclusion is hate is baggage.

Life’s too short to be pissed off all the time.

It’s just not worth it.

Derek says it’s always good to end a paper with a quote. He says someone else has already said it best, so if you can’t top it, steal from them and go out strong.

So I picked a guy I though you’d like.

We are not enemies, but friends. We must not be enemies. Though passion may have strained we must not break our bonds of affection. The mystic chords of memory wil swell when again touched as surely they will be by the better angels of our nature,

 

Pekanbaru, 6 Agustus 2017

3.37 pm

– C

Diposkan pada cerpen

Tuhan, mengapa setiap tahun Kau senantiasa membuat boneka Barbie baru?

 

Kupusatkan perhatian pada interior kafe ini, pada langit-langit tinggi yang dicat hitam, menutupi kabel dan corong udara. Terlihat lukisan yang terpajang di dinding, replikasi lukisan besar, seperti Mona Lisa, The Starry Night, Girl with a pearl earring hingga American Gothic. Pemilihan lukisannya pun mencerminkan budaya mainstream yang mulai menjamak. Haha, budaya mainstream? Aku tertawa mendengar kata itu diperdengarkan dalam batinku. Adakah nama budaya mainstream? Aih, entahlah, tetapi demikian arus yang tengah berjalan saat ini, penuh dengan hal-hal besar yang menjadi biasa. Mainstream, terlalu biasa. Mainstream, semua orang sudah tahu. Mainstream, semua orang punya pemikiran maupun pandangan yang sama akannya. Mainstream.

Mataku lari pada meja berkaki empat yang terbuat dari campuran kayu dan besi penyangga yang juga dicat hitam, pada kursi kayu yang dudukannya persis seperti bangku SD-ku dulu, pada sofa yang empuk dan diduduki rombongan abege dengan tawa-tawa mereka yang keras dan centil, pada etalase kue yang memajang berjenis-jenis kue yang membangkitkan air liurku, pada potongan cinnamon roll dengan wangi kayu manisnya, pada pie apel yang asam-manis, pada egg tart yang permukaannya berwarna kecoklatan, pada potongan samosa yang gemuk berisi, pada brownies coklat yang ditaburi potongan kacang kenari dan pada pekerja yang mengenakan seragam hitam yang doyan mengikik untuk memberi hiburan pada diri mereka sendiri.

Suatu kali, suatu kali sekali, karena kebiasaanku duduk di kafe ini, pernah aku demikian bosan dengan ponsel yang tidak juga memunculkan notifikasi pesan, sehingga aku mulai berkhayal. Khayalan ini, menjadi sangat dalam, hingga aku merasakannya sangat nyata. Entah mengapa, hari itu, khayalanku adalah tentang menjadi seorang pegawai di kafe ini, tentang menjadi gadis muda yang mengenakan pakaian seragam berwarna hitam dengan celemek putih dan bando berwarna putih, menjadi gadis muda yang mengenakan make up ringan dan pulasan lipstick merah bata sebagaimana standar yang ditetapkan oleh pemilik kafe, menjadi gadis muda yang mengenakan celana jins hitam yang memudar (namun senyum tidak boleh pudar dari wajah) dan menjadi gadis muda yang kecewa pada hidup. Kubayangkan aku berdiri di balik meja kasir, berdiri di balik etalase kue, memandangi kue kecil yang harganya puluhan ribu, memandangi papan menu yang menuliskan harga dengan detil, memandangi mesin pembuat minum, memandangi mesin cash register dan memandangi pengunjung yang datang. Nyata juga dalam bayanganku, bagaimana rasa kecewa itu, memikirkan bahwa aku yang menjadi pegawai, sama mudanya seperti gadis-gadis yang sedang berkuliah itu, gadis-gadis pelanggan kafe ini, gadis-gadis dengan pakaian mereka yang cerah (crop top yang memamerkan perut rata mulus dan celana jins pendek yang menampakkan sepotong kecil dari pantat mereka), gadis-gadis yang sibuk mengikik dan gadis-gadis yang memberi orderan konyol dan tidak memahami betapa beratnya satu selot espresso 30 %. Dan aku berhenti berkhayal mengenai hal itu, karena dalam khayalanku saja rasanya sangat menyakitkan, menyedihkan.

Sungguh sulit melihat sesuatu hanya dari satu sudut, karena adalah benar jika menilai sesuatu itu harus dinilai dari 360 sudut, sebagaimana sudut di lingkaran, satu lingkaran penuh. Nah, dengan demikian barulah penilaian itu penuh dan sah. Tetapi apa peduli orang jika lingkaran itu memiliki 360 sudut? Dalam budaya yang kini mengakar, hal kecil tidaklah perlu dipermasalahkan, selama feed instagram senantiasa terisi. Apa peduli orang pada pegawai kafe yang bekerja dari pagi hingga malam, apa peduli orang pada perempuan tua sepertiku yang duduk dengan kaus kebesaran dan rambut acak-acakan? Orang tidak peduli. Karena dari luar, kulit yang kukenakan menunjukkan hal yang tidak menarik, penampilan yang tersaji tidak mengundang rasa ingin tahu.

Sementara, bagaimana aku mengatakan tentang bocah-bocah yang berpakaian mini dan dilirik begitu banyak lelaki? Haha, ya! Aku tidak puas dengan kondisi yang ada, aku tidak terima. Tetapi, aku tidak dapat menyuarakannya dengan keras. Aku hanya diam, duduk di pojokan menatap bocah-bocah yang umurnya hanya separuh dari umurku sudah berkencan dan memiliki rambut jatuh yang mengikal di bawah, menatap boneka yang mengikik karena gombalan dari lawan jenisnya, mengikik pada lipstick nude yang mereka pulas di bibirnya dan bertanya (kemana aku di waktu aku seusia mereka?). Haha, ya aku pun tertawa memikirkan bahwa aku akan cemas, aku saat ini dihinggapi oleh rasa cemas akan kemunculan boneka-boneka Barbie itu, yang demikian menarik, yang kulitnya mulus dan tanpa cela, dengan senyum mereka yang centil dan polos, dengan tubuh mungil yang berlekuk (dan tentu saja korset yang mereka kenakan tercetak di baju mereka dan tentu saja korset itu yang membuat lekuk itu demikian memikat), dengan waktu-waktu panjang yang masih mereka miliki.

Sementara, aku di penghujung usia 29 tahun, mempertanyakan seperti apa rasanya berkepala tiga, mempertanyakan apa tujuan hidupku yang mengabur, mempertanyakan masa depan yang membosankan (membayangkan aku akan bangun setiap pagi, berangkat kerja, makan siang, pulang dan tidur), mempertanyakan kemana aku selama ini? Mengapa tidak pernah terbersit di kepalaku, sewaktu usia belasan tahun untuk berkencan dan menikmati tawa dan denyut cinta, berpelukan dan berciuman, menikmati apa yang dikatakan sebagai masa muda?

Aku mengingat belasan tahun yang lalu, dengan kumpulan piala dan juara yang aku miliki, waktuku kuhabiskan untuk belajar dan berprestasi. Aku mengingat dengan jelas, pujian yang aku terima, uang yang kuterima, kebanggaan di wajah bapak dan ibu, nama besar yang aku miliki. Pemenang olimpiade matematika. Dan setiap malam, kupandangi piala itu, bertanya mengapa aku merasa kosong? Mengapa aku merasa kosong?

Aku mengingat belasan tahun yang lalu, aku dengan yakin memilih universitas yang kuinginkan, memilih jurusan yang kuinginkan dan tanpa ragu mengejar nilai baik, mengenai cum laude. Tentu saja, hasil tidak pernah mengkhianati usaha dan aku mendapatkannya, IPK 4 tanpa cela. Aku mengulang 2 tahun untuk semua kelas yang memberiku nilai B. Dan hasilnya kuhabiskan waktuku untuk mengejar ilmu yang demikin aku banggakan.

Kuingat tahun-tahun yang lalu, bapak yang merengek meminta aku berkeluarga, mencari pasangan, dan kukatakan tidak dengan pongah. Aku katakan tidak karena aku ingin bersekolah kembali, pergi jauh ke negeri seberang belajar kembali dengan beasiswa yang ditawarkan padaku. Benar saja, kuhabiskan lagi waktu-waktuku untuk belajar dan mencari GPA cum laude. Aku menertawakan masa-masa itu, menertawakan bagaimana aku tidak memperhatikan apapun selain prestasi dan bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankannya. Kuhabiskan waktu mengurung diri dan belajar. Kembali, kudapatkan apa yang aku inginkan, yaitu prestasi.

Dan setelah itu, aku mengenal facebook dan menyadari betapa berbeda dunia menjadi. Aku terkejut melihat teman-teman yang sudah bekerja di perusahaan besar (yang nilainya begitu jelek sewaktu bersekolah), teman-teman yang menjadi aparatur Negara (padahal mereka adalah tukang bully sewaktu bersekolah), teman-teman sudah menikah dan memiliki 3 anak  yang bersekolah SD di usia 26 tahun dan juga teman-teman yang sudah berpulang pada-Nya. Aku terkejut akan perubahan yang terjadi dan tidak menyangka tahun-tahun itu berlalu cepat sekali. Terlalu cepat.

Dan kuhabiskan beberapa tahun di situs dating online, mencari pasangan, pergi menemui lelaki di kencan buta, berkenalan dengan lelaki lain, mengirimkan fotoku pada lawan chatku (hal yang sungguh kuselali hingga hari ini), membaca artikel menemukan pasangan hidup, hingga membaca novel cinta yang konyol. Dan baru kali ini aku menemukan kegagalan yang membuatku frustasi dan marah. Apa yang salah dalam diriku?

Kemarahan yang membuatku marah pada Tuhan.

Bagaimana aku akan mendapatkan pasangan jika setiap tahun, Tuhan meng-orbitkan Barbie baru di hadapanku. Bagaimana?

 

Pekanbaru, 5 Agustus 2017 6.16 pm

  • Menghabiskan siang ini di mall dan inilah cerpen yang mampu kuketikkan. Selamat menikmati, 🙂
Diposkan pada film

Fargo – 1996

Rating IMDB 8,1/10
fargo

Ya! Ini adalah film yang berbeda dari tv series yang sedang tayang dengan judul yang sama. Untuk tv seriesnya saat ini dibintangi oleh sederet artis yang sepertinya berpindah haluan dan pemeran layar lebar menjadi pemeran tv series. Ada Kirsten Dunst, Billy Bob Thornton hingga Ewan McGregor.

 

Fargo sendiri adalah film lama yang rilis di tahun tahun 1996 dan dibesut oleh Coen Brothers, dua saudara yang menjadi sutradara. Sewaktu menonton pertama sekali, kita akan disuguhi kalimat berikut :


“This is a true story

This event.”

 

Hmmm, yep, tentu saja sewaktu membacanya, perasaanku semakin nyes. Menarikk sekali. Semua film yang mengaku dari kisah nyata, selalu mendapatkan tempat tersendiri di hati kita. Karena jauh dalam diri, aku merasa whoaaa, hal seperti ini, yang se-ekstrim ini dialami oleh orang? Maka, kalimat itu membangkitkan rasa ingin tahuku lebih jauh.

Bertempat di suatu restaurant, datang menemui 2 orang lelaki, Jerry Lundegaard (William H Macy) menyewa 2 orang untuk menculik istrinya dan meminta tebusan kepada mertuanya yang kaya raya. Jadi, Jerry sedang terlilit dalam masalah keuangan, dia membutuhkan dana untuk mengakuisi sebuah lahan untuk dijadikan bisnis, sementara mertuanya yang super kaya (memiliki banyak bisnis termasuk showroom mobil yang dikelola oleh Jerry) tidak bersedia membiayai bisnis tersebut. Idenya adalah untuk meminta tebusan sejumlah tertentu dan memberikan beberapa puluh ribu dollar kepada 2 orang lelaki yang bertugas sebagai penculik itu. Uang tebusan yang dia ambil akan digunakannya untuk mengembangkan bisnis itu, membuatku berpikir film ini boleh juga, karena menampilkan potongan orang yang demikian tertekan sehingga nalarnya tidak lagi berjalan dan tidak bisa berpikir kalau akhirnya dia berhasil mengakuisisi bisnis tersebut apakah tidak akan ada orang yang merasa curiga?

 

Kemudian, mereka berpisah dan Jerry pulang ke rumahnya, pada keluarganya dengan seorang anak lelaki yang mungkin masuk usia remaja dan seorang istri yang tipikal istri kuno, menggunakan celemek, pekerjaannya merapikan rumah dan memasak, memastikan anak dan suaminya mendapatkan masakan rumah setiap waktu. Yap, ini adalah potret dari kehidupan sosial di masa itu, dan hal-hal kecil seperti ini yang membuatku sangat suka menonton film tua seperti ini. Dengan latar tahun 80-an di Minnesota, yang dingin dan bersalju (musim salju), kita disuguhi pemandangan salju putih yang tebal, pemandangan orang menggaruk-garuk kaca mobilnya untuk menyingkirkan lapisan es yang menghalangi pandangan dan sebuah pemandangan yang quite sadistic, jadi, pastikan kalian menonton film ini sampai habis! Haha…

 

Kembali pada jalan cerita, pulang ke rumah Jerry harus kembali bekerja dan beraktifitas seperti biasa hingga menunggu hari H itu datang. Dia bekerja dan ditagih oleh customer yang protes karena merasa apa yang dia jual adalah tipuan dan ingin meminta pertanggungjawaban Jerry. Belum lagi pemandangan Jerry ditelpon oleh pihak dari bank yang menginginkan gesekan nomor mesin dari mobil yang mereka danai (ps : mobil ini diberikan kepada 2 lelaki itu sebagai kendaraan operasional – cukup konyol sekali). Di adegan demi adegan yang disajikan aku sekali lagi melihat beratnya menjadi ayah di jaman dahulu (tahun-tahun 60-80an yang rasanya sangat keras). Tidak banyak hiburan, mau menghidupi anak, tekanan dari pekerjaan dan hidup yang membosankan (my opinion – very honest opinion). Kemudian dia menemui mertuanya dan meminta pendanaan sekali lagi, mertuanya memberikan proposal kepada asistennya yang beranggapan bahwa proposal itu memiliki prospek. Hmmm, bagian ini membangkitkan pikiranku.

“Waduh, gimana dong! Kan dia sudah menyewa orang itu dan bagaimana dong? Apakah dapat dicancel?”

 

Kemudian Jerry mulai mencari cara untuk mengontak kedua orang yang disewanya itu, tetapi hasilnya nihil, dia tidak dapat mengontak mereka. Karena kedua orang itu sudah bergerak dan sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Dan sudah terduga, istri Jerry berhasil diculik dan membuat Jerry pulang ke rumah untuk menemukan rumahnya dalam keadaan hancur. Dia berusaha untuk bersikap panik, menelpon mertuanya dengan akting bahwa mereka dalam kondisi gawat karena istrinya sudah diculik dan orang yang menculiknya meminta tebusan.

 

Sementara, secara paralel, di kota Maine (the home of Paul Bunyan) kedua penculik itu sampai membuat kekacauan yang sangat besar hingga membunuh seorang polisi dan dua orang sipil lainnya, membuat dilakukannya penyelidikan terhadap mereka. Polisi yang menyelidikinya adalah seorang wanita yang sedang hamil besar dan menampakkan kecerdasan yang kontras dengan orang-orang di sekelilingnya yang cenderung tidak mau tahu dan cepat mengambil kesimpulan. Penyelidikannya membuat officer itu menemui Jerry yang semakin kalut.

 

Nah, di titik ini segala hal menjadi kacau dan plot demi plot digiring dengan apik. Tetapi, harus diakui, film ini benar-benar menguji inteligensi kita. Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di kepalaku, karena tindakan yang Jerry ambil, bisa dikatakan super idiot.

 

Tetapi, walaupun plotnya terasa sedikit kacangan dan akhirnya cukup tragis, film ini layak untuk ditonton. Efek thriller nya tidak terasa, tetapi potret kehidupan yang disajikan dengan apik membuat kita memahami satu dimensi yang tidak pernah kita rasakan. Ohya, maaf saja, menonton film ini juga membuatku berpikir bagaimana bisa orang-orang sekarang terlihat sangat cantik, dengan penampilan yang rapi dan kinclong, sementara di film ini kita disajikan penampilan gadis-gadis yang masih tidak menarik penampilannya. Rating 8,1 juga membuatku cukup terkejut, karena menurutku ceritanya nggak menyatu, seperti potongan puzzle yang kurang tepat. Tapi, sungguh film ini harus ditonton sampai akhirnya, dan aku nggak akan membocorkan spoilernya di sini.

 

Anyway, aku mencoba mencari tahu film ini setelah habis menontonnya dan secara mengejutkan menemukan fakta bahwa karena tulisan film ini berdasarkan kisah nyata, pernah terjadi kasus seorang wanita keturunan Jepang meninggal di musim dingin karena mencari sesuatu yang tertinggal (dari film ini). Dan Coen Brothers kembali membuat film tentang wanita itu. Huh!

 

Anyway, happy Sunday! 🙂

 

Pekanbaru, 30 Juli 2017 11.37 am

  • C

 

 

Diposkan pada film

Cinderella Man – 2005

tCinderella Man – 2005

IMDB rating 8/10

Cinderella_Man_poster

In all the history of the boxing game, you find no human interest story to compare with the life narrative of James J. Braddock….                                          – Damon Runyon

 

Hmm, Cinderella Man, judulnya saja membuatku berpikir bahwa ini pastilah semacam film comedy romance yang kemasannya kurang. Haha, yep! Aku termasuk orang yang gampang menilai sesuatu (kebiasaan buruk yang sedang kucoba untuk kurangi) dan tentu saja melihat judulnya aku pun tidak tertarik untuk menontonnya. Hingga suatu hari, entah Sabtu atau Minggu, aku mencari daftar film dengan rating IMDB yang tinggi (kesukaanku) dan akhirnya film ini menggugahku. Penasaran jadinya.

 

Bergenre sport, family dan drama. Hmmm…

 

Di poster film, kita disuguhi oleh pemandangan wajah Russel Crowe dan Renee Zeelweger yang berpelukan dan di bawahnya tampak Russel berdiri dengan jubah kilat dan mengangkat tangannya tinggi, simbol kemenangan. Sebenarnya perpaduan kedua orang ini sangat menarik, Russel Crowe yang super serius (ingat A Beautiful Mind, tentunya) dengan Renee yang menjadi Bridget Jones (karakter yang sangat sulit dihapus dari ingatan kita semua). Tidak disangka rupanya chemistry yang mereka bangun benar-benar terasa sepanjang film, dan mereka benar-benarlah aktor dan aktris yang jenius.

 

Film ini mengangkat kisah nyata mengenai James J. Braddock (Russel Crowe) yang sempat menjadi petinju di Madison Square Garden, New York, akhir tahun 20-an. Di awal film terlihat James memenangkan pertandingan dengan julukan the bull of Bergen dan membawa pulang uang ribuan dollar pulang ke rumahnya. Di rumah yang megah, sang istri Mae Braddock (Renee Zellweger) telah menunggunya dengan perasaan cemas. Dengan kemenangan tersebut, sepanjang karir boxingnya, Jim tidak pernah sekalipun di-KO.

 

Alur cerita mulai bergerak perlahan, memperlihatkan rumah indah yang mereka miliki hingga saat Jim mulai menanggalkan semua kalung dan jam tangannya dan uang yang dia miliki. Kemudian, latar berganti menjadi suatu hari yang sepertinya sama, tetapi rupanya berbeda. Di tahun 1933, 4 tahun menjelang depresi besar yang menyerang USA. James tidak lagi tinggal di rumah megah mereka, melainkan di sebuah apartment kecil dan berdesak-desakan dengan ketiga orang anaknya. Sisa kejayaannya menghilang, membuatnya harus mengantri di balik pagar besi tinggi untuk bekerja mengangkat barang di pelabuhan. Bisa tertebak, sesuatu terjadi dan James tidak lagi menjadi petinju, semua harta yang dia miliki disimpan dalam bentuk saham yang harganya jatuh gila-gilaan, menyisakannya untuk menjadi buruh tidak tetap dan harus membiayai kehidupan ketiga anaknya dengan tagihan yang senantiasa menumpuk.

 

Di sinilah, penonton disajikan potret kemiskinan yang sebenarnya, bagaimana anak-anak merengek karena makanan tidak cukup dan orang tua merelakan jatah makan mereka. Bagaimana tunggakan membuat listrik diputus dan rumah dalam keadaan gelap gulita. Bagaimana perjuangan seorang ayah untuk menghidupi ketiga anaknya. James adalah karakter yang sangat kuat, dia adalah tipe orang tua lama yang masih menjunjung tinggi janji yang diucapkan dari mulutnya. Suatu kali, putranya Jay mencuri daging dari toko daging, membuat James menemani putranya untuk mengembalikan daging tersebut. Jay berkata bahwa salah seorang temannya dikirim ke rumah pamannya karena orangtuanya tidak mampu memberi mereka makan. James terlihat terpukul, marah, tidak berdaya dan marah.

 

Yeah, well, things ain’t easy at the moment, Jay, you’re right.

But there’s a lot of people worse off than what we are.

And just cause things ain’t easy that don’t give you the excuse to take what’s not yours, does it?

That’s stealing, right?

And we don’t steal.

No matter what happens, we don’t steal. Not ever, you got me?

 

Dan James berjanji tidak akan mengirimkan putranya kemanapun, tidak peduli seberapa miskin mereka.

 

Kemudian hal berubah menjadi sangat buruk dan menyebabkan Mae (sang istri) harus memindahkan anaknya karena rumah mereka dalam keadaan tidak berlampu. James begitu marah karena tidak mampu menepati janji pada putranya Jay dan pergi untuk mendapatkan uang santunan dan datang ke Madison Square Garden untuk meminta pertolongan pada orang-orang yang pernah dia kenal. Menyakitkan melihat seorang lelaki kuat harus menengadahkan tangan meminta bantuan dari orang lain karena dia tidak ingin mengingkari janji pada putranya. Aku menontonnya dengan perasaan dikocok melihat matanya yang berkaca-kaca dan keseriusan yang dia tunjukkan. “Kalian cukup mengenalku untuk tahu bahwa aku tidak akan mencari kalian kalau masih ada tempat lain yang dapat kutuju.” Dari hasil yang terkumpul akhirnya James berhasil mengembalikan anaknya pulang ke rumah. Tetapi kemiskinan tetap membayangi mereka.

 

Di sinilah cerita mulai berbalik, James mendapatkan tawaran untuk menggantikan seorang petinju yang mengalami cedera dan tidak ada orang yang mau bertanding (dengan kondisi tidak ada latihan yang komprehensif) melawan petinju yang sudah punya jam tanding (yang sudah berlatih sebagai persiapan). Maka tentu saja James menyetujuinya, dia pasti mengambil pekerjaan itu karena tahu uangnya akan sangat membantu kehidupannya, apalagi setiap harinya semakin berkurang saja tenaga kerja yang diperlukan di pelabuhan.

 

Jujur saja, titik inilah yang menjadi tonggak perubahan dan aku merasa akan sangat disayangkan kalo aku menceritakan apa yang terjadi selanjutnya di sini. Akan lebih baik kalo kalian langsung menonton film ini, menonton totalitas dari Russel Crowe yang luar biasa, menonton perjuangannya yang sama luar biasanya dan menyaksikan sendiri arti kata HUMANITY.

 

Film ini disajikan dengan intens, latar yang dibangun sangat konsisten dan mendukung cerita itu sendiri, karakternya pun sama intensnya. Kita melihat James yang bersusah membesarkan anak-anaknya, kita disajikan pemandangan Mae mesti menjadi ibu tanpa uang yang cukup untuk memberi makan anaknya atau listrik untuk menghangatkan ruangan, kita melihat Joe yang gigih dan menyembunyikan kemiskinannya dengan baik dan melihat Max Baer yang sangat kuat dengan naluri membunuhnya. Semua disajikan dengan apik dan menurutku membuat film ini sangat layak untuk ditonton. Untuk penggemar film layaknya pursuit of happiness film ini sangat layak untuk ditonton. Haha!

 

Selamat menikmati! 🙂

 

Pekanbaru, 24 Juli 2017 7.21 pm

  • C

 

Diposkan pada film

Nocturnal Animal – 2016

NOCTURNAL ANIMALS - 2016

Nocturnal animals (2016)

Rating IMDB 7,5/10

Whoa, yep! Jarang menemukan film baru, tahun 2016 yang mencapai angka 7. Maka tentu saja film ini langsung menarik perhatianku. Nocturnal animal, hewan yang aktif di malam hari.

Diperankan oleh Amy Adams dan Jake Gyllenhaal, pasangan yang cukup unik. Amy Adams memiliki latar sebagai aktris untuk film-film comedy romance dan bisa dikatakan sukses dengan peran yang cenderung sweet dan problem free. Nah, sejak beberapa tahun terakhir terlihat dia benar-benar mengganti haluannya dan mengambil peran yang serius dan pretty fuck-up. Sudah nonton The Arrival? Film tahun 2016 juga dengan rating 8,1. Yep! Untuk film dengan rating seperti itu dia berperan. Dan Jake, hmmm, Jake. Dia adalah karakter yang unik, ada beberapa film comedy romance dengan peran yang sweet (Accidental Love dengan Jessica Biel – 2015), ada juga film yang cukup keras dimana dia menjadi tokoh yang keras (Southpaw with RachelAdams – 2014) dan ada juga film kolosal Prince of Persia di tahun 2009. Bisa dikatakan dia termasuk aktor yang kaya akan diversifikasi peran. (Cuman aku paling suka sewaktu dia mengambil peran di Nightcrawler – 2014 – super fucked-up)

Awal film bikin aku jantungan, karena langsung menampilkan beberapa perempuan bertubuh besar (super besar) yang sudah berumur dan telanjang. You can see their breast and the pubic hair. Hmmm, kemudian latar berganti menjadi pameran seni dimana Susan (Amy) menjadi kreatornya, dengan rambut warna orange burgundy yang lurus dan lipstick yang tebal. Singkat cerita, itu adalah pamerannya yang bertajuk Junk, dimana junk food membuat orang menjadi gemuk dan super gemuk. Junk. Tetapi Susan tidak menyukai karyanya, dia bukan tipe yang mudah puas, terlalu keras pada dirinya sendiri dan menyebut pamerannya sebagai junk – sampah.

Susan menikah dengan seorang pemilik galeri yang saat ini sedang dalam masa sulit (keuangan) dan di saat yang sama juga berselingkuh dengan perempuan lain. Susan seorang diri tinggal di rumah besar yang mewah dengan banyak pelayan. Kemudian alur berganti, Susan menerima paket berupa draft buku yang berjudul Nocturnal Animal. (Susan said, mantan suamiku pernah menjulukiku sebagai nocturnal animal karena kebiasaanku yang sulit tidur di malam hari). For Susan, demikian tulisan di halaman depannya. (Aslinya film ini diadaptasi dari novel yang berjudul Tony and Susan). Pengantar dari suaminya : setelah berpisah darimu aku memiliki ide untuk menulis buku ini. Hmmm.

Singkat cerita Susan mulai membaca buku itu dan film memutar adegan dari buku itu. Sepasang suami istri dengan anaknya, Tony dan Susan with India, dalam perjalanan di daerah Texas menuju suatu tempat. Dalam perjalanan mereka mobil mereka dihadang oleh mobil lain dan setelah berhasil memotong dan menekan klakson penuh amarah, akhirnya mereka melaju di depan, meninggalkan mobil itu dan India memberikan jari tengahnya. Fiuhh, ternyata mobil itu berisi 3 pemuda ugal-ugalan dan mereka nggak terima dan memulai memepet mobil Tony. Di bagian ini, Susan (Isla Fischer) dan India mulai panik, dan meminta Tony untuk mempercepat laju mobilnya. Tetapi, setelah beberapa adegan yang (cukup membuat aku naik darah karena Tony ini sangat lemah) bertele-tele, mobil mereka akhirnya terperosok ke tepi jalan. Hmm, sudah tertebak, ketiga pemuda itu pasti akan mencari gara-gara.

Di bagian ini, aku merasa sebal dengan Tony (yang diperankan Jake) yang cenderung lemah dan nggak kuat dan letoy. Apa yang terjadi adalah bagian yang cukup intens dan lebih baik ditonton sendiri, supaya gambarannya lebih nendang.

Di akhir cerita, Susan (Amy) ternyata bercerai dari Edward (Jake) karena mulai berselingkuh. Susan juga mengaborsi anaknya. Susan juga merasa kecewa karena Edward lemah dan terlalu romantic. Jadi, buku itu adalah gambaran pribadi Edward (dengan nama Tony) yang lemah, nggak mampu melakukan apapun dan lamban. Walau di awal aku benar-benar membenci Tony yang lemah dang nggak becus, di akhir justru aku bersimpati dengan Edward, yang benar-benar mengakui bahwa dia lemah dan mampu menciptakan alter ego dengan nama Tony. Karakter Tony itu sangat kuat loh, hingga aku sanggup membencinya sedemikian rupa.

Penutupan film ini adalah Susan membuat janji dengan Edward yang tidak pernah muncul. Susan menggunakan lipstick tebal dan menghapus sebagian lipsticknya, mengenakan gaun hijau dengan bagian dada terbuka. Aku suka di bagian dia mengikat tali di leher gaunnya, slow but intens.

Atmosfer film ini menarik, suasana thrilling yang dibangun cukup intens, dan karakter yang disajikan tidak banyak tetapi kuat. Susan yang perfeksionis dan tidak pernah puas, Edward yang lemah, Tony yang lemah dan ibu Susan yang materialistis. Alurnya film juga dibangun dengan baik, adegan nyata (Susan) memiliki momentum yang sama dengan adegan buku (Tony). Tidak ada ketergesa-gesaan yang sering meruntuhkan nuansa thrilling ini.

In the end, aku merekomendasikan film ini untuk ditonton. Two thumbs up.

Pekanbaru, 2 July 2017 10.57
– C

Diposkan pada film

THE HOLLARS – 2016

THE HOLLARS - 2016

The Hollars – 2016
Rating IMDB 6,5/10

Genre drama, family.
Alur cerita cenderung datar.

John Hollar (John Krasinky – the film maker, Emily Blunt’s husband) adalah pemuda dari kota kecil yang pergi ke New York, bekerja di kantor penerbit, memiliki pacar (Rebecca – Anna Kendrick) yang tengah hamil besar dan berasal dari keluarga berada.

Singkat cerita, ibu John, Sally mengidap tumor otak dan suatu pagi terjatuh di kamar mandi dengan alat pengeriting yang membakar kulitnya. Sally adalah perempuan tua, yang memiliki 2 anak lelaki dan suami yang cengeng. Sally termasuk perempuan dari satu generasi dimana perempuan lahir untuk menikah dan di akhir dia merasa puas dengan hidupnya.

Singkat cerita John pulang ke kampungnya untuk mendapati bahwa ibunya mesti dioperasi, abangnya yang dahulu bekerja pada ayahnya sudah tidak bekerja lagi karena kondisi ekonomi memburuk (bercerai dari istrinya yang kini memulai hubungan dengan pendeta muda dan memiliki 2 anak perempuan yang masih kecil dan abangnya menumpang tinggal di rumah orangtuanya), bisnis ayahnya terancam tutup dan bangkrut, mengharuskan ayahnya bekerja di toko liquor dan ternyata perawat yang membantu ibunya adalah suami dari mantan pacarnya (Gwen).

Haha, complicated, yes!
Ceritanya cukup biasa, tetapi idenya original, menyoroti dampak dari krisis ekonomi yang membuat banyak usaha harus tutup. Yang sedih adalah setelah puluhan tahun membangun usahanya, masa di waktu tua, ayah John harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa usahanya nggak bisa survive dengan tekanan ekonomi. Sedih saja memikirkan itu terjadi, tapi sekaligus nyata.

Singkat cerita, kita digiring melihat John bernostalgia, John belajar bahwa banyak hal berubah dan John menghadapi kenyataan bahwa ibunya akhirnya meninggal. Hmmm. After all that operation thing.

Film ini bisa dikatakan menyenangkan untuk ditonton, sekedar hiburan, message yang disampaikan adalah family stay together, beberapa adegan lucu dan mengundang tawa, sementara bisa dikatakan film ini bersih dari adegan making love yang kerap muncul di film hollywood. Film ini bisa dikatakan cukup sopan.

Soundtrack filmnya bagus, ya, aku sedang mencari beberapa lagunya, nanti kalo sudah ada aku update ke sini. Soundtracknya adalah lagu tua yang iramanya sederhana, dominasi petikan gitar dan lirik yang membumi.

Kalo buat ketawa ringan, film ini boleh ditonton. Tapi kalo berharap sesuatu yang intens yang mengocok emosi, pass lebih baik.

Pekanbaru, 2 Juli 2017
11.13 am
– C

Diposkan pada film

The Last Word

THE LAST WORD ( 2017 )

IMDB : 6,5/10

 

(spoiler alert)

 

Hi! Selamat pagi! Aku berpikir beberapa bulan terakhir, ya tentu saja aku berpikir, tetapi pikiran ini nggak menuntun aku kemanapun. Sementara umur nambah, tujuan hidup makin nggak jelas. Salah satu hal gila adalah di satu waktu, sewaktu aku capek, aku bisa pula bermimpi menikah dan menjadi ibu rumah tangga saja (what?!) Dan sewaktu aku lagi on fire, aku pengen jadi wanita karir, membawa karir perbankan yang aku punya sekarang ke tahap yang lebih gila, dan seperti hari ini aku hanya menulis film dengan rating IMDB tinggi yang ingin aku tonton. Haha, aku tahu, otakku bekerja spontan dan sederhana. Dan kembali ke judul!

 

The Last Word, dibintangi oleh dua orang artis yang berbeda generasi dan memukau sekali. Untuk genre drama seperti ini, rating 6,5 adalah angka yang cukup tinggi. Amanda Seyfried (dengan perannya sebagai gadis bodoh di Mean Girl, ingat?) dan Shirley MacLaine (pernah nonton film the Apartment?). Haha, ya mereka adalah kombinasi yang sangat menarik.

 

Alur cerita sangat sederhana, Harriet Laurer *Shirley MacLaine* muncul sebagai wanita tua yang hidup sendiri. Suatu kali dia pingsan dan dibawa ke rumah sakit, kemudian sewaktu terbangun dia masih sempat-sempatnya berantem dengan dokternya. Ugh, berikut percakapannya dengan dokter itu dan nilai sendiri.

“Ma’am, don’t call me ma’am! You never call a woman ma’am. That makes her feel old.”

“I’m sorry) – doctor

“You’re sorry? Oh, you’re sorry.”

….

“And if you have a problem with that, I don’t care.” – doctor.

 

Kemudian suatu pagi di membaca halaman orbituary di Bristol Gazette dan memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ya, dia memutuskan untuk mencari penulis orbituary dan memintanya untuk menuliskan orbituary baginya, agar nanti sewaktu dia meninggal yang dibaca orang adalah apa yang sudah dia setujui. Control freak, salah satu karakternya yang paling berkesan bagiku.

Di kantor penerbit koran, dia menemui Anne Sherman sang penulis dan mengkonfrontir secara langsung. Semua orang yang orbituary-nya dimuat adalah orang-orang yang brengsek menurut Harriet dan dia heran mengapa Anne membuat semua orang itu terdengar seperti saint? Karena dulunya Harriet berjasa menolong koran tersebut, maka bosnya Mr Odom meminta Anne untuk menuruti permintaan Harriet. Setumpuk kertas yang detil berisi orang-orang yang dikenalnya disodorkan kepada Anne. Sudah tertebak, pasti semua orang yang tercantum di kertas tersebut tidak mampu menyebutkan hal baik mengenai Harriet. Kemudian Anne harus bekerja keras untuk menuliskan orbituary yang jauh dari kata memuaskan.

4 hal yang penting dalam orbituary :

  1. The deceased should be loved by their families.
  2. The deceased should be admired by their coworkers.
  3. The deceased must have touched someone’s life unexpectedly.
  4. That’s the wild card.

 

So, cerita berlanjut, demi 4 kriteria di atas Harriet bersedia mengubah hidupnya, mengunjungi panti anak-anak dan akhirnya memutuskan akan menjadikan seorang gadis kecil sebagai orang yang hidupnya tersentuh karena dia. Perubahan yang dia buat mengantarkannya untuk memiliki karir baru di usia 80-annya.

 

Favorite quotes dari Harriet Laurer :

“No. No, no.

Never apologize for speaking your mind.

 

“Because there was no way I was not going to live up to my potential.”

 

Secara keseluruhan, kemasan film ini bagus. Porsi hidup yang diceritakan terasa nyata, bukan comedy romance yang tokoh utamanya nggak mengalami struggle dalam pekerjaan atau yang hidupnya hanya memikirkan cinta saja. Harriet Laurer adalah gambaran dari perempuan yang keras dan tahu apa yang dia mau dan mau berusaha untuk itu. Sementara Anne Sherman adalah gambaran perempuan masa kini yang sering kali memiliki mimpi yang diperjuangkan di waktu luang. Maksudku adalah sering kali, dengan tuntutan hidup, dengan keharusan untuk mencari nafkah, mimpi yang kita bangun sewaktu remaja akhirnya hanya menjadi selingan yang dikejar sewaktu kita memiliki waktu luang. Anne Sherman adalah gambaran kondisi itu. Dia masih memiliki mimpi itu di dalam hatinya, tapi mimpi itu masih muda, mesti dipoles menjadi dewasa dan yang terpenting mimpi itu jangan terkubur oleh rutinitas sehari-hari.

Aku teringat lagu Simple Plan, when I’m gone.

Life is what happens while you’re busy making your excuses.

 

Ohya, soundtrack film ini bagus. Aku mengenal The Kinks melalui film ini dan harus kuakui aliran The Kinks ini sangat 70-an. Lagu-lagu yang aku ingin dengar di hari Minggu siang, sewaktu weekend-ku mulai berkurang dan berganti menjadi weekdays.

 

Thanks for reading. Bye!

 

 

 

 

 

Diposkan pada my world, what i like you to read

humiliation

Sungguh mengejutkan,

Waktu, datang dengan pelajaran yang baru

Tersentil aku seperti telingaku kala kecil

Jeweran lembut yang mengagetkan

Tidak sakit tetapi melek mataku jadinya

 

Tahun memberiku pelajaran

Yang tidak kudapat dari bapak dan ibuku

Mereka hanyalah orang kecil yang sederhana

Yang satu bermimpi terlalu tinggi dan tenggelam dalam lumpur

Yang satu begitu pesimis dan abai

 

Tetapi bukan tentang mereka aku menulis

Bukan pula tentang kecewa dan dukaku

Kutulis tentang pelajaran yang kudapat dari hidup

Bagaimana orang yang elok, ternyata tidaklah elok sepenuhnya

Bagaimana satu orang mampu membolak-balik kehidupan

Bagaimana sebenarnya perjalananku masihlah terlampau jauh dari titik akhir

 

Kutarik napas panjang, mengurai lelah yang menggerogoti

Lelah karena kurang tidur, lelah karena menikmati waktu malam dengan gadget

Dan lelah karena tidak juga aku raih inginku

Tetapi sungguh, malam ini lelahku lebih dari itu

 

Sekejap saja, satu kedipan

Dengan tangis yang mengalir pelan dan diusap cepat

Dengan suara yang serak dan sengau, menahan gagu

Dengan puluhan pasang tatapan, yang tidak menyangka hingga yang tertawa dalam diam

Aku menyaksikan hidup seorang pria

Dibolak-balik seperti ikan goreng di wajan

Dan sekalipun kurasakan betapa besarnya dia dan kedudukannya

Nyatalah dia hanya seekor ikan kecil yang hancur

Melebur bersama minyak yang menggorengnya

Bergerak seirama dengan sendok penggorengan yang asyik membaliknya kesana-kemari

 

Sungguh memalukan, dipermalukan

Dan dia masih berdiri tegak dan tegak

Kurasakan luapan bangga, pernah mengenal dia

Kurasakan sapuan ajaib, kagum akan sikapnya

Kurasakan cemas, bagaimana ke depannya aku?

 

Masih kudengar pembenaran demi pembenaran

Dan masih tidak terima aku oleh setiap kata yang kudengar

Pikiranku ada pada lelaki itu, yang asyik menggoyang kaki tanda tak sabar

Aku mengamati senyum yang hilang dari dia

Aku mengamati bagaimana beratnya menjadi ayah

Kuamati demikian dengan bola mataku yang terkantuk

 

Ternyata menjadi orang itu susah

Ternyata berdiri sewaktu dipermalukan itu susah

Ternyata melihat bola mainanmu direbut begitu saja itu susah

Ternyata menyusun rencana baru dalam hidup itu susah

Dan ternyata hidup tidaklah lembut seperti sapuan angin di wajah kita

 

Aku masih terduduk dan merenung

Berpikir tentang siapa aku dan apa aku

Tentang hal yang mesti kukejar esok

Tentang begitu banyak kisah yang tidak pernah selesai

Aku lelah sekali

Sekaligus aku takut, karena aku pun bisa menjadi dia

Dipermalukan

Dan bukan dipermalukanlah yang menakutkan

Dilempar ke jalanan untuk mencari hidup dari awal

Untuk memulai dari awal, sementara beban sudah berat untuk dipikul

 

Pekanbaru, 20 Maret 2017

20.11

– menyaksikan atasanku dipaksa resign dari kantor. Atasan dengan 4 orang anak yang harus diberi makan dan KPR yang harus dibayar setiap bulannya.

Oh, oh, oh…

 

Diposkan pada my world

the great Gilly Hopkins

The Great Gilly Hopkins

 

Hmm, film yang dirilis tahun 2016 ini merupakan film dengan genre drama, family. Jadi jangan harap akan melihat anak-anak muda yang kece dan keren atau adegan naked khas film barat lainnya. Film ini murni film keluarga, yang menurutku sangat menarik.

 

Adegan awal dimulai sejak Galadriel Hopkins, aka Gilly Hopkins ditarik oleh petugas dinas sosial menuju sebuah rumah baru. Pemilik rumah adalah wanita tua yang gemuk dengan wajah tanpa riasan dan selalu mengenakan dress aka daster. Di rumah itu ada anak lelaki yang mungkin berusia 5 atau 6 tahun. Film dimulai dengan alur cepat. Gilly sudah berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya dan kali ini mendapatkan kesempatan untuk tinggal bersama Ms. Trotter. Aku suka dengan cara mereka yang menggambarkan bagaimana kehidupan di US sana. Begitu orang tua tidak memiliki kemampuan untuk menjaga anaknya, akan selalu ada dinas sosial, child wellfare yang membantu mereka untuk keluar dari kehidupan mereka yang kacau dan menempatkannya di keluarga-keluarga yang lebih mampu. Mampu dalam hal ini nggak cuman secara materi, tetapi lebih ke emosi, tidak melakukan kekerasan pada anak contohnya. Film bergulir dengan cepat dan to the point.

 

Aku suka karakter Gilly yang sarkastik, tetapi memiliki hati yang baik. Dia sangat merindukan mamanya dan mimpinya tiap hari adalah untuk bertemu dengan sang ibu. Di setiap rumah dimana dia ditempatkan, dia selalu membuat masalah karena dia adalah tipe pembuat onar. Tetapi sebenarnya dia tidak seburuk itu. Dia memiliki jiwa sosial yang tinggi dan dibutuhkan lingkungan yang tepat untuk mengeluarkan sisi itu dari dirinya. Aku tertawa banyak saat menonton film ini, terutama melihat Gilly dengan sarkasmenya saat bicara pada ms. Trotter. Aku juga melihat lucu saat dia bertemu dengan petugas dinas sosial itu. Menurutku karakternya sangat menarik, dan ajaib. Ini adalah karakter anak kecil, tetapi i get in to her so much.

 

Secara keseluruhan, film ini mengajarkan bahwa keluarga itu nggak cuman yang punya hubungan darah denganmu. Tanpa hubungan darahpun semua orang bisa menjadi keluarga. Yang dibutuhkan adalah hati dan perhatian. Aku suka dengan cara mereka menggambarkan begitulah orang Amerika seharusnya, yang peduli pada orang lain. Aku cukup lelah melihat film yang menggambarkan kekerasan, amarah, dan makian yang full dari awal sampai akhir. Maksudku adalah setelah tadi siag menonton film Nerve (2016), maka The Great Gilly Hopkins membuatku percaya masih ada rasa manusiawi dalam diri kita. Dan kasih adalah hal yang universal dan mesti selalu disebarkan kepada siapa saja.

 

Pekanbaru, 02 Desember 2016 19.08

  • C